Lakoffie Lokal Salatiga: Permata di Balik Surga Kopi Robusta
Nama Salatiga dalam dunia kopi hampir selalu berdiri sejajar dengan robusta.
Sejarah panjang, iklim yang mendukung, dan budaya minum kopi membuat robusta tumbuh menjadi identitas utama kota ini.
Namun seperti banyak daerah penghasil kopi di Indonesia, apa yang paling dikenal tidak selalu menjadi satu-satunya cerita.
Di balik “surga robusta” itu, tersimpan satu varietas kopi yang jarang dibicarakan, jarang dibudidayakan massal, namun punya jejak sejarah yang nyata:
kopi nangka (excelsa).
Jejak Kolonial:
Ketika Belanda Mencari Alternatif Kopi Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, perkebunan kopi di Hindia Belanda menghadapi tantangan besar.Wabah karat daun (Hemileia vastatrix) menghancurkan banyak tanaman arabika, memaksa pemerintah kolonial dan pengelola perkebunan mencari varietas kopi yang lebih tahan penyakit dan iklim tropis.Di masa inilah beberapa varietas non-arabika diperkenalkan, termasuk:
Robusta, Liberica, Dan Excelsa
Excelsa pertama kali diidentifikasi secara ilmiah oleh botanis Prancis pada awal 1900-an, lalu dibawa dan diuji tanam oleh pihak kolonial Belanda di wilayah tropis, termasuk Nusantara. Tujuannya jelas: diversifikasi tanaman kopi yang lebih tahan dan adaptif.
Excelsa di Nusantara: Dikenal, Tapi Tidak Diarusutamakan
Berbeda dengan robusta yang kemudian dikembangkan besar-besaran, excelsa tidak pernah benar-benar masuk jalur produksi massal.Bukan karena gagal tumbuh, melainkan karena:
Produktivitasnya tidak seagresif robusta Karakternya terlalu unik untuk pasar massal saat itu
Fokus kolonial lebih pada volume ekspor daripada keragaman rasa. Akibatnya, excelsa sering hanya ditanam terbatas, sebagai tanaman alternatif atau pelengkap, bukan komoditas utama.
Salatiga: Tanah Robusta, Rumah yang Masuk Akal bagi Excelsa
Secara historis, Salatiga berkembang sebagai wilayah kopi karena:
Tanah vulkanik subur, Curah hujan yang cukup, Ketinggian rendah–menengah yang ideal bagi robusta
Menariknya, kondisi ini juga selaras dengan karakter tumbuh kopi excelsa.
Artinya, meskipun robusta mendominasi, excelsa bukan varietas asing secara ekologis di wilayah ini.
Ia ada, tapi tidak disorot.Tumbuh, tapi tidak diangkat.
Kopi Nangka: Warisan yang Tidak Pernah Jadi Arus Utama
Kopi nangka dikenal karena:
Aroma buah tropis yang khas, Karakter rasa yang berbeda dari pahit klasik robusta, Identitas yang tidak mudah dikategorikan
Di masa lalu, karakter seperti ini justru membuatnya sulit dipasarkan secara massal. Namun hari ini, ketika penikmat kopi mencari keunikan dan cerita, karakter itulah yang menjadi nilai. Ironisnya, semakin langka excelsa dibicarakan, semakin besar nilainya.
Lakoffie dan Upaya Mengangkat yang Terlupakan
Lakoffie melihat kopi nangka bukan sebagai pengganti robusta Salatiga, melainkan sebagai lapisan cerita yang selama ini tersembunyi.Bahwa Salatiga:
Bukan hanya kuat, Tapi juga kompleks, Tidak hanya pahit,tapi juga unik
Mengangkat kopi nangka berarti menghidupkan kembali jejak sejarah kolonial yang tidak pernah benar-benar hilang—hanya terlupakan.
Kesimpulan
Robusta menjadikan Salatiga dikenal. Namun kopi nangka mengingatkan bahwa kota ini punya lebih dari satu wajah kopi.
Excelsa mungkin tidak pernah menjadi raja produksi. Tapi justru karena itu, ia layak disebut permata. Dan di tengah surga robusta,permata yang lama tersembunyi itu kini menemukan momentumnya kembali. ☕🌿